“Musuh membiak seperti tikus. Kau injak mereka, kau racun mereka, kau bakar mereka, akan lebih banyak lagi yang muncul! Tidak ada bedanya apakah kau hidup pada masa perang atau damai, makmur atau kelaparan! Musuh selalu menyusun rencana di belakangmu.(Shah Jahan dalam Taj Mahal, Kisah Cinta Abadi)”
“Taj Mahal adalah bangunan yang menjadi bagian dari salah satu tujuh keajaiban dunia. Dibangun oleh Shah Jahan sebagai pusara bagi istrinya Mumtaz Mahal yang meninggal karena melahirkan sungsang ketika peperangan sedang berlangsung. Bagi Shah Jahan Taj Mahal adalah gambaran kecantikan dan keanggunan isterinya yang akan selalu dikenang oleh dirinya dan rakyatnya. Shah Jahan mengutus arsitek berdarah Persia untuk membangun Taj Mahal, Isa namanya. Yang akhirnya jatuh cinta pada Jahanara, puteri Shah Jahan yang bersuamikan Khondamir. Isa sangat mengagumi kecantikan Jahanara yang sangat mirip dengan ibunya, Mumtaz Mahal. Jahanara pun selingkuh dengan Isa yang juga sangat ia cintai, karena sejatinya Jahanara tidak pernah mencintai khondamir. Mereka menikah hanya karena alasan politik. Dibalik bangunan indah dan berdiri megah itu terdapat kisah yang haru, kejam, indah sekaligus membawa pembaca pada zaman kerajaan Hindustan.”
“semua orang pada setiap masa, mencari sesuatu yang hilang dalam hidup mereka. tidak kira sama ada sesuatu yang hilang itu adalah orang yang mereka sayang atau hati yang telah kosong dan dipenuhi kegelisahan...mereka akan terus mencarinya. mencari supaya mereka dapat jadi gembira semula. dapat merasa bahagia semula -Ashraf”
“Kau Pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, Pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka , dengan bahasa yang mereka tahu”
“Hal yang paling mematikan dari yang mematikan: Cinta akan tetap membunuhmu, tak peduli apakah kau memilikinya atau tidak.”
“Jika kau terlalu sibuk melihat masa lalumu, atau bahkan cemas terhadap kehidupan masa mendatang, kau tidak akan melihat-Nya. Dan jika kau melupakan-Nya,...hidup ini tak layak kau jalani...”
“Dalam Genggamanmu, IbukBuku baru. Sepatu baru. Sekolah baruUntuk anak-anakmuAgar mereka merekahKau bangun jembatan agar mereka tak melalui kali yang keruhKau gendong jiwa mereka agar selalu hangatKau nyalakan lentera hati mereka...Malam minggu kemarin. Kau tak hanya berjanji.Kau berikan napasmuKau genggam anak-anakmu. Kau genggam erat.Di tanganmu yang halus, kau pastikanMereka tidak terjatuh...”