“Serius, Dyt? Kamu nunggu apa lagi? Kalau dia cukup peduli untuk membantu tanpa perlu kamu minta, he seems worthy enough to be chased.”
“Kalau kamu gak bisa tertawa berulang-ulang untuk hal yang sama, lalu mengapa kamu terus menangis berulang-ulang untuk masalah yang sama?”
“Seriously, Dyt? What are you waiting for? If he could care enough to help you without having you asked him, he seems worthy enough to be chased. ㅡ Ilham Fernando Fauzi”
“No matter how often you're being a pain in my ass mengingat begitu banyaknya kejadian saat lo menjadi sumber dari segala sumber masalah yang membuat gue merasa mungkin nama tengah lo bukan Adrianissa tapi 'trouble', you know you are THAT worthy, Dyt.”
“Demi Tuhan, Dyt. Ada teknologi Facebook, Twitter, Foursquare. Gue aja bisa nemuin teman TK gue yang bahkan gue lupa namanya!”
“Wah ini mudah. "Pasti Mbak tau kok," ujarku yakin. "Laki-laki, namanya Ardian, tadi dia ke sini pakai celana jeans dan kemeja hitam."Melihat si Mbak Linda mengerutkan kening, aku kemudian menambahkan. "Dia ganteng mbak. Seberapa banyak nasabah mbak yang ganteng hari ini?”
“But, if this guy, or whoever he was, he is, or he will be, can't handle you at your worst, they sure as hell don't deserve you at your best. Enough said.”