“Ya Tuhan. Kenapa sih, aku mempunyai keluarga yang rasa penasaran dan ingin tahunya ngalahin anak tiga tahun ngeliat colokan listrik? --Edyta”
“Aku sih nggak percaya dengan yang namanya love at first sight. Tapi, terutama setelah kejadian ini, aku percaya pada love at first impression.”
“Demi Tuhan, Dyt. Ada teknologi Facebook, Twitter, Foursquare. Gue aja bisa nemuin teman TK gue yang bahkan gue lupa namanya!”
“Wah ini mudah. "Pasti Mbak tau kok," ujarku yakin. "Laki-laki, namanya Ardian, tadi dia ke sini pakai celana jeans dan kemeja hitam."Melihat si Mbak Linda mengerutkan kening, aku kemudian menambahkan. "Dia ganteng mbak. Seberapa banyak nasabah mbak yang ganteng hari ini?”
“Maksudnya biar lo termotivasi untuk cepat dapat pacar. Biar ada yang nemenin lo ke toko buku—""—gue bisa sendiri!" selaku cepat."atau menemani lo ngopi-ngopi—""—itulah gunanya teman-teman cewek!""atau mendengarkan lo curhat—""—itulah gunanya Syiana.""atau dimintai pertolongan saat si pipi tembam mogok di jalan.""— itu kan gunanya lo, San." Aku mulai nyengir.”
“Kalau kamu gak bisa tertawa berulang-ulang untuk hal yang sama, lalu mengapa kamu terus menangis berulang-ulang untuk masalah yang sama?”
“No matter how often you're being a pain in my ass mengingat begitu banyaknya kejadian saat lo menjadi sumber dari segala sumber masalah yang membuat gue merasa mungkin nama tengah lo bukan Adrianissa tapi 'trouble', you know you are THAT worthy, Dyt.”