“..aku sangat diberkati karena bisa menikmati segala cara sederhana yang dia tunjukkan untuk mencintaiku.”
“Kupikir orang tidak akan bisa membuat komitmen sebelum benar-benar jatuh cinta. Sekarang aku tahu, kita tidak akan bisa mencintai dengan tulus sebelum membuat komitmen.”“Inilah kesempatan terakhirku dalam cinta, bukan karena aku sudah terlalu tua untuk menjalin cinta dengan orang lain, tetapi karena sudah waktunya berhenti. Berhenti berlari, mengejar sasaran bergerak yang kusebut kebahagiaan itu, dan merasa berbahagia dengan apa yang sudah kumiliki.”
“Hidup ini kadang keras,tetapi kita membuatnya jadi lebih keras lagi melalui cara pandang kita.”
“Seorang ibu akan selalu khawatir memikirkan anaknya, setiap hari selama hidupnya.”
“In this way, I was able to place my own concerns aside and curl myself up in the cocoon of somebody else's imagination. My life was suspended - I was in neither one place nor the other.”
“We both grew so used to each other, so comfortable with the naturalness and ease of our friendship, that we became sloppy about keeping our relationship a secret. It was not that we were physically demonstrative or obviously in love, more that it had become impossible for us to hide our close involvement. We had gradually acquired the unmistakable air of old-love: finishing each other's sentences and speaking to each other with an offhand, presuming intimacy that was eventually noticed.”
“Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku – dan sisi jahatku itu sangat sulit untuk dicintai"~Darren Leonidas”